”Dituangin kan bisa,” aku berkata. XNXX bokep Awalnya aku mencoba untuk bersabar, berusaha tenang, dan terus memberinya waktu. Tak sabar merasakan kenikmatan vaginaku, dengan segera bang Irul menghujamkan batang penisnya. “Pikirkan aja dulu.” Sita berdiri. Namun begitulah adanya, bahkan justru Sita lah yang memintanya. Dengan penasaran aku mananti kalimat apa yang akan keluar dari sana. Dia juga meraba-raba payudara bulatku yang juga bergoyang-goyang tak kalah hebatnya.“Gimana, In, enak?” bisik Sita nakal di telingaku. Ya mana bisa hamil kalau gitu.” Sita mencemooh. Laki-laki itu membaringkan tubuh montokku di ranjang dan kemudian membuka kedua paha mulusku lebar-lebar. “Oke.” aku mengedipkan mata sebagai tanda mengerti.Tapi sampai dua bulan berlalu, masih belum ada tanda-tanda janin akan bersemayam di rahimku. “Aaah… e-enak, Sit.” sahutku gemetar. Dan setiap kutanyakan kembali, ia hanya bilang: ‘kapan-kapan aja, tunggu tanggal mainnya. Bukan dia saja yang menginginkan seorang bayi.“Aku juga menginginkannya, Ma.” teriakku pelan pada bantal yang sudah separuh basah.Dengan mata sembab, kuangkat telepon yang berdering kencang di ruang tengah.










