Tangan kirinya ditekuk seperti akan memegang pinggangku, tapi telapaknya hanya dikepal seolah ragu atau malu. Aku sudah menganggap ia sebagai istriku saja. Bokep jilbab Ia tidak bereaksi, tapi aku langsung saja menyingsingkan CD-nya ke bawah. Kuteruskan permainanku dengan mengitari sekitar bukit-bukit segar itu. mau Mas”, katanya. “Ah Mbak ini ada-ada aja”, kata Rini malu-malu. Tatkala tersenyum, senyumnya lebih mengukuhkan lagi kalau di sini bukanlah tempat yang pantas baginya untuk bekerja. Tampaklah dua bibir yang mengapit lembah cintanya dihiasi bulu-bulu tipis. “Udah ah, kita sambil tiduran aja yuk ngobrolnya”, ajak istriku. Akhirnya dengan wajah memohon ia berkata, “Buka dong kacanya..” Segera aku sadar dengan keadaan dan refleks membuka kaca jendelaku. “Eeehhh…” desahnya. Kini ia mulai mengikuti iramaku dengan menggerak-gerakkan pinggulnya. Kupegang burungku sambil duduk mengangkang di atas kedua pahanya, kemudian kuelus-eluskan burung itu ke ujung lembah yang sebagian masih tertutup CD. Selang berapa lama kedua tangannya lekat mencengkram punggungku, kakinya ikut menjepit kedua kakiku.




















