Sampai di depan rumah Rianti, aku sedikit ragu untuk masuk, rumahnya memang tidak mewah, tapi setidaknya lebih bagus dari punyaku, di luarnya ada warung kecil tempat ibunya Rianti untuk berjualan. “Jangan bodoh! Bokep arab Tangisnya makin keras, aku pun segera mengalunginya belati dan menyuruhnya untuk tidak ribut. Hingga besoknya, Mamat pun mendapatkan informasi kalau Rianti dan ibunya kecelakaan saat menuju Jakarta. Aku pun menjambak rambutnya dan menariknya agar dia bangun dan berdiri. Sudah delapan botol bir aku dan Mamat habiskan di cafe ini. Sesekali security kampus itu memandangi kami dengan tatapan curiga, wajar, perawakan kami sedikit menyeramkan, selain hitam, tubuh kami penuh tatto dan bekas luka sayatan, apalagi dengan baju yang kotor begini. Aku yang sudah memasuki umur 18 tahun memang sudah seharusnya menjadi tulang punggung keluarga, walaupun aku anak tunggal, tapi aku masih harus menghidupi ibuku. Setelah selesai membagi hasil, kami hanya bersantai minum kopi menunggu jam tujuh jadwal buka kios tambal ban kami.




















