Bayar arisan. Auhh aku mau keluar ah.., Yang tolloong..!” dia mendesah keras.Lalu ia bangkit dan pergi secepatnya.“Yang.., cepat-cepat berkemas. Bokep colmek Aku tidak dapat lagi memandanginya.Kantorku sudah terlewat. Kadang-kadang ketimun. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Ia membersihkan punggungku dengan handuk hangat. Aku lupa kelamaan menghitung kancing. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. Jagain sebentar ya..!”Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.Setelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Seakan sengaja memainkan Si Junior. Aku pertegas bahwa aku mengendus kuat-kuat aroma itu. Ciut. Kulihat di bawahku ada kain, ya seperti saputangan.“Itu kali Mbak,” kataku datar dan tanpa tekanan.Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika ia membersihkan paha bagian bawah. Sekali. Aku harus memulai. Ah.., wanita yang lehernya berkeringat itu begitu besar mengubah keberanianku.“Buka bajunya, celananya juga,” ujar wanita tadi manja menggoda, “Nih pake celana ini..!”Aku disodorkan celana pantai tapi lebih pendek lagi. Membuatku tidak berani. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Angin menerobos dari jendela.




















