Apakah beliau tidak akan marah kalau dia berterus terang..?“Kenapa diam..?”Jo menghela nafas, “Maaf Bu.. Bokep colmek Ibu hanya ada perlu sebentar..”“Maaf Bu..!” Jo cepat-cepat mengenakan kaosnya.Barusan dia hanya bercelana pendek. Tangannya menepis tangan Jo yang secara naluriah hendak merengkuhnya.“Hhh.. Terbayang raut wajah Inah yang dalam benaknya lugu, tetapi kenapa mau disuruh melayaninya..? Hanya kemudian terdengar tawa berderai mereka berdua.Jo mulai lupa percakapan yang menimbulkan tanda tanya tersebut karena kesibukannya setiap hari. Ibu minta kamu jangan ceritakan ke siapapun. Selalu dan selalu dia meninggalkan Jo dalam keadaan menahan gejolak yang menggelegak tanpa penyelesaian yang layak. Beberapa saat kemudian, “Pleph..!” tiba-tiba Bu Rhien mencabut pantatnya dari tubuh Jo. Dirainya bantal untuk ganjal kepalanya. Setelah selesai Bu Rhien segera berdiri dan merapihkan pakaiannya. mungkin hampir satu bulan.”“Baiklah Bu..” tukas Inah mahfum.Bu Rhien segera berlalu melewati Jo yang tengah membersihkan tanaman di pekarangan belakang tersebut. Jo segera paham.




















