Malam semakin larut. Bokep live Seharian ini, aku memang dirundung hujan, dan aku tidak berlari. Dia menjajakan kantong-kantong plastik hitam itu ke setiap pengendara yang singgah karena lampu merah. Aku mematung di tempatku berdiri. Aku langsung ingin mengutuk diri. Aku yakin sekali, orang tuanya sudah berhasil mendidiknya dengan ajaran agama. Perempuan yang mengenakan jas hujan itu masuk, meninggalkan lelaki yang tadi. Seperti biasa, aku berdiri di tempat ini, di dekat tiang nama jalan yang bertuliskan Jalan Merdeka Raya. Di dekat tiang lampu merah, sekitar beberapa meter dari tempatku berdiri, ada seorang anak laki-laki berambut kusut berpakaian kusut menenteng kantong-kantong plastik hitam yang juga kusut. Aku tidak tahu tapi aku teramat jengkel dengan diriku sendiri. Dia terlihat girang sekali memperoleh uang seribuan. Aih, kalimat ini mengingatkanku pada Hujan Bulan Juni milik Sapardi. Itu karena anak perempuan dalam mobil sedan itu terlihat ingin muntah, jadi dia membutuhkan kantong plastik hitam demi memuntahkan semua isi perutnya.




















