Bisa kabur, kan?” “Tapi nanti aku ada ulangan!” “Ya udah, terserah kamu!”Aku jadi tambah penasaran. “Udah 17 tahun, udah dewasa…” “Maksud Tante, aku boleh….” “Kamu boleh apapun yang kamu mau, Sayang!”Berkata begitu, Tante Ning menerkam mulutku dengan bibirnya. Bokepindo Kini mulut Tante Ning merayap turun ke bawah, menyusuri leher dan dadaku. Obrolan di telepon membuat pikiranku bertambah jorok. Kami ML kapan saja, setiap ada kesempatan. Tante Ning kegirangan, mukaku diciuminya dengan gemas. Seperti yang pertama, kembali dia berada di atas. Aku jadi semakin tidak enak hati. Tante Ning tersenyum. Aku sempat berpikir waras, kami tidak boleh melakukan semua ini! Tante Ning tersenyum. Kemeja seragamku entah kapan dibukanya, tahu-tahu sudah teronggok di lantai. Sesekali aku mengangkat pantat mengikuti komando Tante Ning. Tidak begitu lama, Tante Ning mengajakku segera membalik posisi.“Ooouhkk.. Lalu kami berciuman bibir, lama dan penuh nafsu. Maju, mundur, kiri, kanan, berputar-putar. Di rumah cuma ada Tante Ning dan si Mbok. Lebih-lebih ketika kurasakan nafas Tante Ning dekat sekali dengan mukaku.




















