“Hei..!” Santi menjerit kaget, “Mas, jangan nggangguin Santi dong.., ntar makanannya jadi nggak enak lho!”. Bokep indonesia Santi merenggangkan kedua pahanya, tidak tahan mendapat perlakuan seperti itu.Sementara tanganku yang lain kini masuk menelusup ke kaos Santi, menjalar menuju bukit payudaranya yang membusung. Betul-betul spontan dan tanpa tedeng aling-aling. Kedua kakinya erat menjepit pinggangku. Tetapi dalam hatinya, ia berkata lain, dan berharap aku tidak segera mengakhirinya.Aku memang tidak berhenti. Santi menggelinjang merasakan kenikmatannya mulai terbangun di bawah sana. Aku terus menciumi tengkuk yang dipenuhi rambut-rambut hitam halus itu. Kaosnya juga terlalu sempit, tidak bisa menyembunyikan keindahan payudaranya yang padat membusung itu.Pemandangan seperti itu adalah magnet yang amat kuat, menarikku untuk segera mendekat. Aku mula-mula menggosok-gosokan bagian kepala dari kejantanannya yang telah membesar itu. Santi telah pula menaburkan saus tomat dan mentega cair di atasnya, sehingga benar-benar menjadi santapan lezat. Tersentak, aku mengangkat wajahku dan memandang takjub, melihat saos tomat berleleran keluar dari botol dan memenuhi celah kewanitaan Santi.




















