Tunjukkan bahwa betisku indah!”Aku mengangkat kaki Mbak Lia dari lututku. Bokepindo Sebagai atasan, sebelumnya kupanggil “Bu”, walau usiaku sendiri 4 tahun di atasnya. Ia merintih setiap kali lidahku menjilat clitnya. Pesona yang membutuhkan sanjungan dan pujaan.“Periksalah, Jhony. Dan bila kami terlibat dalam pembicaraan yang cukup serius, ia tidak menyadari roknya yang agak tersingkap. Sambil menatap pesona di depan mataku, saya menarik nafas dalam-dalam. Aku menengadah. Ternyata betisnya yang berwarna gading itu mulus tanpa bulu halus. Aku menengadah. Hanya sedikit udara yang sanggup kuhirup, sesak tetapi menyenangkan. Aku terpana. Jhony!” kata Mbak Lia sambil menekan bab belakang kepalaku.“Hirup aromanya!” sambungnya sambil menekan kepalaku sehingga hidungku terselip di antara bibir kewanitaannya.Pahanya menjepit leherku sehingga saya tak sanggup bergerak. Ada segaris kebasahan terselip membayang di bab tengah segitiga itu. Mbak Lia menggelinjang sambil menarik rambutku dengan manja. Lendir yang hanya segumpal kecil, hangat, kecut, yang mengalir membasahi kerongkonganku.




















