Namanya Hari.“Jul.., lagi ngapain lu?”
“Bengong.., kenapa?”
“Bantuin gue dong !”
“Bantuin ? Bokep montok “Siapa Lin?”
“Ngga ada suara, telepon kaleng kali”
Aku tersenyum kecut, “wah pasti si Yuni”, pikirku. Demikian juga schedule hari ketiga. Akibat minum bir, rasa kantukku telanjur lenyap.Jam setengah satu Alex mengahampiriku, “Jul”. Kini tampak jelas kini lubang vaginanya yang telah menganga, menahan rindu. Kusorongkan penisku dengan pelan dan jantan. Kami berpelukan lama dalam posisi ini. “Kalau cape tiduran aja Lin..”
“Kamu aja Nov, tanggung udah jam tiga, jam lima aku pulang kok..”
Aku tersenyum, sekarang aku melangkah ke arah tempat tidur, “Ya udah, aku aja yang selonjorin kaki, sory ya aku duduk di tempat tidur”. Tergoda juga sih.., but prinsip is prinsip.Kini Yuni di depan mataku, tinggal sontok dan tanpa tawar lagi namun keberuntungan masih di pihakku. Kini posisiku telentang. Kujilat dengan mesra, Lina menjerit tertahan, tubuhnya sangat tegang lalu mengendur. Sekarang aku yang panik. Tarifnya lumayan tinggi meski masa itu belum jaman likuidasi. (yang aku heran, bibirnya tipis, tapi rasanya tebal bukan




















