Makin lama makin jelas. Bokep hijab Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.“Telentang..!” katanya.Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya. Aku mengurungkan niatku. Atau mau gunting? Alamak.., jauhnya. Langkahku semangat lagi. suara itu lagi, suara wanita setengah baya yang kali ini karena mendung tidak lagi ada keringat di lehernya. “Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.“Besok saja Sayang..!” ujarnya.Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Ah apa saja. Seakan sengaja memainkan Si Junior. Bodoh amat. Kemudian menyerahkan celana pantai.“Mbak Wien, pasien menunggu,” katanya.Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Ayo..!“Mbak.., pahaku masih sakit nih..!” kataku memelas, ya sebagai alasan juga mengapa aku masih bertahan duduk di tepi dipan.Ia berjongkok mengambil sapu tangan. Lalu memegang pahaku, “Yang mana..?”Yes..! Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Aku hanya main dengan tangan. Mobil bergerak pelan, aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Ayo. Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yang masih menempel di tubuhku.












