Setelah sampai, rumahnya sangat seram sesuai dengan dugaanku, aku masuk ke dalam rumah dan betapa kagetnya karena begitu aku masuk keadaan dalam rumah sang dukun sangat berbeda dengan di luarnya. XNXX jepang “aaahhh,,,mmhhhh,,,oohhh”. “sip mbah, yaudah kalo gitu, saya pulang lagi ya mbah”. Kini dari semua sudut payudaraku, sekarang tinggal putingku saja yang belum tersentuh lidahnya. Scene II : Dukun Hi-tech
Di klub malam itu, tak biasanya aku mual-mual, biasanya meskipun aku minum lenih dari 5 gelaspun aku kuat, tapi malam itu, entah kenapa aku merasa mual, untung aku bisa menahan dan muntah di kamar mandi sehingga aku tidak muntah di depan banyak orang. “yee, si Mbah ngelawak mulu”. “yee, emangnya saya perempuan murahan apa,, enak aja si mbah?”. Lalu aku antar mereka satu persatu ke rumah mereka masing-masing, setelah itu aku pulang ke rumahku. Tomang si berbadan besar mendekatiku yang duduk tanpa berbusana di tengah-tengah ruangan dari arah kananku, sementara Cuprit yang berbadan kurus mendekati dari arah kiriku.




















