Kaki itu sekarang diangkat dan tertekuk di kursinya. Ketika aku terlena menatap kakinya, tiba-tiba aku dikejutkan oleh pertanyaan Mbak Lia..“Jhony, aku merasa bahwa kau sering melirik ke arah betisku. Bokepindo Sangat kontras dengan pahanya yang berwarna gading.Aku merinding. Ia memang menawan karena sepasang bola matanya sewaktu-waktu dapat bernar-binar, atau menatap dengan tajam. Tapi atas permintaanya sendiri, seminggu yang lalu, ia mengatakan lebih suka bila di panggil “Mbak”. Terasa sangat berat menjawab pertanyaan sederhana itu. Tak pernah aku melihat paha semulus dan seindah itu. Bila sedang berada di ruang kerjanya, diam-diam aku pun sering memandang lekukan pinggulnya ketika ia bangkit mengambil file dari rak folder di belakangnya. Lalu bibir kewanitaannya kukulum dan kuhisap agar semua kebasahan yang melekat di situ mengalir ke kerongkonganku. OK?”Aku mengangguk. Pinggulnya diangkat dan digosok-gosokkannya dengan liar hingga hidungku basah berlumuran tetes-tetes birahi yang mulai mengalir dari sumbernya. Tunjukkan rasa hausmu! Indah. Aku menarik nafas untuk menghirup aroma yang sangat menyegarkan.




















