Kedua kakiku merentang tegang, dengan tumit tenggelam dalam-dalam di kasur. Bokepindo emm..”, desahnya pendek.“Celana tidur Mas sekarang telah terlepas, kejantanan Mas sudah tegak menegang, kamu masih ingat jelas bentuknya ‘kan? Kini kami duduk berhadapan dengan kaki saling menyilang. keras sekali, Nia ingin Mas menggigitnya, Nia ingin Mas meremasinya.., pelan saja Mas..”, Tania berkata demikian sambil jemari telunjuk dan jempolnya memilin-memutar putingnya dengan lembut.“Iya.. Ia menggumamkan namaku itu dengan sedikit keras, lalu menggulingkan tubuhnya menjauh dari sisi tempat tidur. Mas, teruss..”, Nia semakin tidak sabar menuggu kelanjutannya sambil jemari tangannya membelai-belai lehernya sendiri, mengikuti fantasiku. man has to know his limit..”, jawabku meyakinkannya.Tiba-tiba HP si manajer itu berdering, dan ia menjawabnya dengan nada bicara yang pendek-pendek tanpa semangat. Mas juga enakk..”, aku membalas rintihannya dengan menggigit mesra leher jenjangnya itu hingga memerah.Tanganku tetap memilin-milin puting kecoklatannya, sambil sesekali aku basahkan air sabun ke atasnya.Tania makin mengelinjang-gelinjang sambil terus mendesah-desah nikmat,“Terus Mas, terus Mas..”.“Aaah..,” Tania menjerit tertahan ketika orgasme kedua (ke enam bersamaku)




















