Aku dorong
pintunya dan ternyata tidak terkunci. Hingga akupun tidak tahan lagi
membendung air maniku bertahan. Bokep asia Nana cuek saja ketika kuamati gambar-gambar tersebut. Aku
baringkan di tempat tidurku, dengan posisi telentang, memberikan kesempatan
bagi Nana untuk menikmati bagian tubuhku yang sangat kubanggakan itu. Aku segera mencabut kejantananku dan
kukocok-kocok hingga muncratlah air maniku di atas perutnya. Pada waktu Mbak Tati
membangunkanku, untuk makan malam. “Iya Mbak, baru datang terus kehujanan.”
“Aduh, nanti masuk angin, aku ambilkan minyak angin ya.”
“Nggak usah Mbak, takut panas.”
“Lha iya biar anget gitu lho.”
“Maksud saya, taku panas kalau kena ini, lho Mbak.”
“Ah Dik Windu bisa aja, mikiran apa sih kok ngacung-ngacung
kayak gitu,” kali ini Mbak Tati mau melihat terpedoku, aku bahagia sekali. Batang kemaluanku sudah tepat di depan mulut liang
kewanitaannya.“Nan, masih perawan nggak, aku masukin ya?” pintaku. Beberapa detik kemudian heninglah suasana di kamar itu.Tampaknya hari sudah mulai malam, hujan terus turun dengan derasnya. Dengan
suara seadanya aku mendesis,“Oh, Mbak kok sudah pulang.” Tidak kusangka Mbak Tati
tersenyum manis, mendekatiku dan mencium bibirku.




















