Segera kami berdiri dan
merapikan baju, Fanny kekamar mandi membersihkan sisa-sisa sperma yang berleleran di vaginanya.Saya sekarang sendirian di ruang elektronik, lampu sudah saya hidupkan kembali, sambil merokok dan
menunggu Fanny kembali ke ruang ini, saya termangu-mangu. Bokep colmek Tak pernah
sekejappun Fanny membuka kedua matanya, sambil terus berdesis-desis pelan.“My Dick” sudah tidak tahan lagi, lihat keadaan seperti ini. Dari remang-remang penerangan dari ruang sebelah sekarang nampaklah Fanny yang telanjang bulat dan
menakjubkan. Saya dan Fanny tertawa ketika nampak adanya
batu kecil di Ginjal sebelah kiri Pak Sebastian, Pak Sebastian langsung meringis kawatir.“Tenang saja Pak, masih kecil sekali, pakai obatpun saya harapkan bisa hilang”.“Saya gantian, Pak” Fanny ikut-ikutan muncul suaranya setelah takjub melihat percobaan saya pada pak
Sebastian.Saya mendadak bengong, selain ruang yang penuh dengan alat elektronik dan hanya ada meja pingpong ini,
hanya ada Saya, Fanny dan Pak Sebastian.Saya memandang Pak Sebastian, nampaknya dia mengerti kejengahan saya,“Iya, pak dicoba saja pada Fanny, sekalian untuk dicoba untuk melihat telur dan rahim”,“Tapi.”kata saya.“Sudahlah pak,dicoba daripada nanti kita diklaim nanti saya










